Sugar Pineaviators Blog

Ide Rumah Pengantin Baru

Ide Rumah Pengantin Baru

Sebelum menikah, Nanas menemani Jeje untuk memilih lokasi rumah. Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah rumah di perumahan yang dekat dengan rumah Nanas. “Selain karena saya sudah terbiasa dengan daerah ini, lingkungan perumahannya juga enak dan tenang. Hanya ramai saat sudah keluar perumahan,” kata Nanas. Kurang cocok dengan desain rumah dari pengembang, Jeje memilih tanah kavling. “Lahan yang masih berupa kavling bisa diubah desain rumahnya sesuai kebutuhan dan keinginan kami,” kata Jeje. Desain rumah asli yang hanya dua lantai, diubah menjadi empat lantai karena kebutuhan area servis yang lebih luas dan keinginan mereka untuk memiliki taman atap. Selama pembangunan, Jeje tinggal di kamar kos, setelah sebelumnya tinggal serumah dengan para personel Govinda. Tak sabar menungu, Jeje meminta pengembang untuk menyelesaikan terlebih dahulu satu kamar agar ia bisa segera menghuni rumah tersebut. “Jadi saya sudah menghuni rumah ini delapan bulan lebih dulu dari Nanas,” kata Jeje yang mengaku apik merawat rumahnya. Sambil pembangunan berjalan, Jeje dibantu Nanas untuk memilih benda-benda interior yang akan mengisi rumahnya.

“Penataan rumah hanya butuh waktu 3-4 bulan, mengejar waktu agar selesai sebelum lamaran, mengingat keluarga Jeje pasti akan menginap di sini,” kata Nanas. Rangkaian bunga artif sial berwarna merah jambu, juntaian tanaman Lee Kuan Yew di atap carport, dan kolam hias di taman depan, menghias tampilan fasad rumah Jeje-Nanas yang tak berpagar. “Kata Mama, suara percikan air di rumah menghadirkan suasana segar, tenang, dan adem. Cuma rumah kami loh yang ada kolamnya di perumahan ini,” kata Nanas. Memasuki pintu utama, terlihat keseluruhan ruang yang didominasi putih pada dinding maupun furnitur dan dekorasinya. Jeje-Nanas mengaku tak mengadopsi gaya tertentu untuk interior rumah mereka. “Konsep gaya rumah ini sebenarnya campur aduk. Gaya Victorian ada, minimalis ada, American ada, Eropa juga ada. Karena setiap kami jalan-jalan dan lihat sesuatu yang bagus di sana pasti kami  contoh dan terapkan di rumah ini. Padahal awalnya kami ingin gaya Scandinavian,” kata Jeje. Foyer dilengkapi dengan piano putih dan lemari sepatu. Lemari tersebut juga putih dan dilapisi cermin. “Selain bisa memberi kesan luas, kami juga bisa berkaca di cermin itu. Oh ya, banyak tamu yang tidak menyangka bahwa itu lemari sepatu,” seru Nanas.

 

Bermain piano bersama sering mereka lakukan di ruang ini. “Mendapatkan piano berwarna putih memang agak susah. Tapi akhirnya dapat, bentuknya pun unik,” kata Jeje. Ruang keluarga yang dihiasi pohon artifsal merupakan ruang favorit Nanas. Ruang itu dilengkapi sofa putih, abu-abu, dan biru, juga meja koper putih. Pintu kaca geser seakan membingkai pemandangan lorong samping yang dihiasi sepeda dan tanaman artifsial di dinding. “Sepeda itu sebenarnya kami beli saat pacaran untuk olah raga berdua. Hanya sekali dipakai, selebihnya dipajang,” kata Jeje sambil tersenyum. Di belakang ada ruang makan yang tak bersekat dengan pantry. Meja makan dengan bangku banquette ini adalah ide Nanas. “Supaya berasa di kafe,” kata perempuan kelahiran Bandung, 30 Oktober 1993 itu. Tanaman artifsial menjuntai cantik menghiasi dinding area ini. Pantry dilengkapi meja sarapan dan kursi bar. Di atasnya, ada rak gantung yang harmonis dengan lampu, terinspirasi dari sebuah kafe di Bandung. “Kami lebih sering makan di pantry dibanding di meja makan,” kata Jeje. Pantry juga merupakan ruang yang paling sering dibersihkan oleh Jeje. “Jeje hobi membersihkan pantry.

 

Saya belum selesai makan atau belum selesai masak, dia pasti sudah bersih-bersih,” kata Nanas. “Saya tidak bisa melihat yang kotor dan berantakan. Itu sudah kebiasaan. Dan saya lebih suka mengunakan tisu dibanding lap, rasanya lebih bersih. Makanya saya punya banyak stok tisu di rumah,” kata Jeje. “Tisu dan larutan pembersih adalah benda favorit Jeje di rumah,” kata Nanas. Tanga dengan pijakan kayu beraksen bata ekspos, menjadi akses menuju lantai atas yang diisi studio musik, kamar tamu, dan kamar tidur utama. Studio bernuansa hitam-putih kesukaan Jeje. “Kalau saya di rumah, pasti di sini. Makanya ditata banget. Banyak storm troopers karena warnanya putih, pas untuk mempercantik ruang yang berwarna gelap,” kata pria kelahiran Jakarta, 22 April 1983 ini. Kamar tamu bernuansa biru sebenarnya adalah kamar anak yang sudah disiapkan pasangan ini. Nuansa abu-abu juga terlihat di kamar tidur utama, ruang favorit Jeje-Nanas.

 

“Selain kamar tidur utama, kami juga paling senang beraktivitas di roofop,” kata drummer Govinda ini. Taman atap adalah salah satu alasan Jeje untuk membuat rumahnya menjadi empat lantai. Mengobrol dan makan berdua di sore atau malam hari, aktivitas Jeje dan Nanas di roofop. Pagar putih jadi solusi untuk menutupi pemandangan toren, yang juga dicat putih oleh Jeje. Jeje menyadari warna putih membutuhkan perawatan ekstra dibanding warna lain. “Bersihkan tiap hari, dan hindari makan di area warna putih. Nanas pun pernah saya larang makan di ruang keluarga,” ujar Jeje yang tak hanya bersih, tapi juga rapi. “Kalau lagi liburan, saya suka cek rumah sudah rapi atau belum, lewat CCTV,” katanya. Jeje-Nanas berencana menganti nuansa warna rumahnya dengan menambahkan aksen biru. “Terinspirasi oleh kafe di Bali yang baru kami kunjungi. Nuansa biru-putih dengan aksen kuning, lucu banget dan mengemaskan!” seru Nanas. Jeje memang hobi menganti dekorasi rumahnya. Terbukti belum setahun menghuni, ia sudah menganti lantai di ruang keluarga dan ruang makan. “Kalau sudah terlihat tidak bagus atau membosankan, harus ganti.

 

Paling hanya tergangu sehari untuk proses pengerjaannya, yang penting puas,” kata Jeje yang berencana dalam waktu dekat mengubah nuansa warna rumahnya. “Mungkin besok akan dimulai,” candanya. Mengaku sebagai anak rumahan, itu sebabnya Jeje mengutamakan kenyamanan dalam menata rumahnya. “Saya kalau di rumah, malas keluar. Makanya rumah harus dibuat senyaman mungkin dan kami banget,” kata Jeje. “Jeje kalau lagi engak ke kantor, bisa semingu di rumah, engak keluar-keluar. Beda banget dengan saya. Tapi kalau saya ajak keluar sih dia mau,” ujar Nanas. Keduanya mengaku rumah tersebut sudah memenuhi kriteria rumah impian mereka. “Rumah ini sudah memenuhi segala keinginan dan kebutuhan kami. Kalau dibilang rumah impian sih iya,” ujar keduanya sepakat.

Jeje dan Nanaz pun tak lupa membekali rumahnya dengan genset. genset sendiri bagi mereka saat ini menjadi kebutuhan wajib di setiap rumah. Hal ini di karenakan sering kali listrik dari PLN sering padam tiba tiba. Salah satu supplier genset denpasar di percayakan untuk instalasi genset di rumahnya