Sugar Pineaviators Blog

SBY Sebut PAN Satu Visi dalam Pilpres

Pertemuan kedua ketua umum partai ini hanya berlangsung sekitar satu jam. Tapi konferensi pers yang digelar di akhir justru lebih panjang dan menjadi ajang Susilo Bambang Yudhoyono menceritakan berbagai hal yang mengganjalnya.

Kemarin malam, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo BambangYudhoyono menerima Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan di rumahnya di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Persamuhan ini membicarakan keinginan membentuk koalisi dalam pemilihan presiden 2019. Selama dua hari berturutturut SBY menerima ketua umum partai.

Zulkifli ditemani para pengurus partai. Begitu pula SBY. Selepas ramahtamah, keduanya menggelar konferensi pers bersama. Zulkifli mengatakan pembentukan koalisi, baik dengan kubu penantang maupun inkumben, terus dijajaki.

baca juga : http://sugarpineaviators.com/keresahan-yang-muncul-bila-listrik-padam/

Sementara itu, SBY menyebut visi dan misi Demokrat dengan PAN sudah serupa untuk menuju pilpres. Pernyataan pers keduanya berlangsung kurang dari 10 menit. Suasana justru beriak setelah Zulkifli pulang. Tim SBY menggelar meja dan kursi di depan wartawan untuk konferensi pers lanjutan.

Presiden dua periode itu lalu memulai, “Saya ingin menjawab pertanyaan teman-teman. Pertemuan saya yang lalu dengan Pak Prabowo, apakah berarti tak ada kemungkinan Demokrat bergabung dengan Jokowi?” SBY menjawab telah lima kali bertemu Joko Widodo, dihitung sejak Jokowi terpilih sebagai presiden menggantikannya pada 2014 lalu.

Menurut dia, setiap kali dalam pertemuan itu, Jokowi mengajak Demokrat bergabung dalam pemerintahan. Namun ia menolak karena Demokrat telah bersikap netral dan tidak bergabung dalam koalisi mana pun dalam pilpres lalu.

SBY merasa hubungannya dengan Jokowi berjalan baik. Namun, kata SBY, terkesan koalisi masih menolak berhubungan dengan Demokrat, apalagi hubungannya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri masih buruk.

Puncaknya, menurut SBY, terjadi ketika enam ketua umum partai pendukung bertemu Jokowi di Bogor pada Senin malam. Pernyataan tertulis dari mereka menyebutkan bahwa partai lain yang bergabung dalam koalisi Jokowi harus mendapat persetujuan semua partai koalisi.

Artinya, sulit bagi SBY bergabung karena harus mendapat restu Mega, sementara hubungan keduanya buruk. “Saya menghormati Pak Jokowi, namun jalan tak terbuka baik,” kata dia. Berbarengan dengan pertemuan koalisi Jokowi itu, SBY menggelar rapat internal dengan pengurus Demokrat.

Akhirnya, ia memutuskan Demokrat akan menjalin koalisi bersama Gerindra. Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno sejak awal menepis kabar bahwa ketua umumnya menjadi halangan Demokrat untuk berkoalisi mengusung Jokowi. “Kami menduga halangan Demokrat itu bukan dari eksternal. Tapi dari internal partai yang menghitung untung-rugi,” kata dia.